10 November 2009

Pentingnya Sebuah Prinsip

Seperti biasa, tukang koran mengantarkan korannya setiap hari Sabtu dan Minggu ke rumah saya. Yah.. Saya berlangganan koran Jawa Pos (JP) setiap hari Sabtu dan Minggu saja karena kalau hari biasa orang-orang rumah pada nggak ada. Di Metropolis (bagian dari Jawa Pos) ada berita yang menarik perhatian saya untuk membacanya yang berjudul Idealis, Tubagus Ismail Lepas Gaji Besar Pilih Jual Es Tebu. Penasaran kan? Saya akan memberikan cerita ringksannya kepada anda semua.
Rombong es tebu itu dikerumuni ibu-ibu muda ketika melintas di kawasan Wage, Sidoarjo. Tawa riang dan canda mereka berbaur dengan sura anak-anak yang berebut membeli. Itulah rutinitas Tubagus Muhammad Ismail menjajakan es tebunya di kawasan tersebut. Pria 39 tahun itu berbeda dengan penjual es tebu lain. Penampilannya rapi bersih dan wangi. Dengan tinggi badan sekitar 170, kulit putih, paras tampan itu jauh dari mainstream penjual es tebu keliling. Pria ramah itu tak hanya punya nilai lebih dari segi fisik tapi juga idealisme. Karena Idealisme itulah dia memilih mundur dari pekerjaannya sebagai legal staff di sebuah perusahaan rokok besar di Surabaya.Padahal, di tempat itu dia punya gaji cukup besar, Rp 10 juta per bulan. Sementara hasil jualan es tebu keliling paling besar dia dapat Rp1,5 juta per bulan. “Ini pendapat saya pribadi, bukan bermaksud memojokkan siapa-siapa,”katanya. “Saya merasa bahwa rokok adalah sesuatu yang mudharat-nya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Itulah yang membuat saya bimbang, saya bekerja di industri yang seperti it,” lanjut bapak satu anak tersebut. “Makanya, saya lebih bahagia sekarang, meski pendpatan pas-pasan. Kedamaian hati, itu yang paling penting,”sambungnya.
Meski gajinya besar, dia selalu gelisah. Puncaknya terjadi pada 2005. “Saya merasa industri tempat saya bekerja tidak cocok dengan hati nurani saya,” tuturnya. Rokok, bagi Ismail adalah hal paling merugikan dalam kehidupan. Terutama dari sudut pandang imannya. Ismail memang religius. “Sejak kecil, orang tua saya selalu menekankan nilai-nilai Islam yang kuat kepada saya,” paparnya. Dalam Islam, rokok dianggap makruh. Bahkan, sebagian ulama menilai haram.“Itu yang mempengaruhi pemikiran saya,” katanya. Satu pemikiran mulai menusuk dirinya. “Masak sih saya memberi makan anak dan istri dengan uang yang dihasilkan dari industri yang merusak masyarakat,”menurutnya.
Ismail pun memutuskan mundur dari perusahaan pada Juni 2007. “Saya akan merugikan perusahaan bila tidak bisa kerja maksimal. Karena situasi yang seperti itu, saya pikir inilah titik untuk hijrah. Saya keluar secara baik-baik”. Selepas dari perusahaan,Ismail melakukan apa saja yang halal untuk menyambung hidup. Antara lain menjadi sales parfum tiruan dan berjualan es tebu keliling. “Saya menemukan dunia yang asyik. Ternyata, saya juga punya potensi di bidang markeeting,” katanya dengan mata berbinar. Dari jualan parfum, Ismail hanya mendapatkan rata-rata Rp600 ribu per bulan, sedangkan dari es tebu dapat sekitar Rp 700 ribu-800 ribu. “Tapi, saya bangga dengan pilihan ini. Meski hanya jadi sales parfum dan tukang es tebyu saya jauh lebih berbahagia ketimbang saat bekerja di industri rokok.”
Itulah sekelumit cerita dari Ismail, Ismail mampu memaknai pekerjaannya sebagai ibadah kepada Allah yang dicintainya. Tidak hanya semata-mata karena uang. Ismail berprinsip dari dalam, tidak dari luar. Hal inilah yang membuat Ismail menjadi raja atas pikiran dan jiwanya yang merdeka. semoga bermanfaat :)

12 komentar:

Tukang komen
Rabu, 11 November, 2009

Sebuah Idealisme yang jarang sekali dimiliki oleh orang biasa, secara jujur sebagai manusia biasa saya akan tetap memilih menjadi legal staff meski saya juga tahu bahwa rokok memang lebih banyak merugikannya daripada menguntungkan, dalam kepercayaan saya juga telah jelas melarang rokok karena sangat-sangat merugikan, suatu perenungan dan praktek kehidupan yang sangat sulit untuk dilakukan oleh manusia biasa.

Sang Cerpenis bercerita
Rabu, 11 November, 2009

legal staf 10 juta per bulan? yg bener? gede amir.

NURA
Rabu, 11 November, 2009

salam sobat
prinsip yang baik sekali pak Ismail,,
dengan memutuskan untuk mundur dari perusahaan lama tersebut,dan berganti dibidang marketing yang menurutnya lebih halal.

empunya
Rabu, 11 November, 2009

@Tukang komen : yup.. saya aja blom tentu bisa kayak gitu.
@Mbak Fanny : iyaa.. besar bnget. gmn gajinya yg pnya rokok iaa? klo gag salah putra sampoerna trmasuk 10 orng terkaya d Indonesia.
@Mbak Nura : ya.. Pak Ismail bisa menjadi tauladan kita semua.

mrpsycho
Rabu, 11 November, 2009

prinsip setiap insan,selalu berbeda beda..semoga ismail bahagia dengan pilihannya

empunya
Kamis, 12 November, 2009

@mrpsycho : iya bener mas...

IHSAN
Kamis, 12 November, 2009

alhamdulillah ternyata orang2 seperti itu MASIH ada ditengah kehidupan hedonis materialistik kaya gini

Fata Hanifa
Kamis, 12 November, 2009

bung ismail KEREN! bisa pegang prinsip ;) btw cieeeeeee lay out blognya baru niyeeeee

Yari NK
Jumat, 13 November, 2009

Semua orang memang akan mengatakan prinsip harus dipertahankan, namun masalahnya setiap orang berbeda2 akan keteguhan kata2nya itu. Ada yang memang benar2 teguh ada yang sedikit angin2an...

Lulus Sutopo
Senin, 16 November, 2009

Artikel yang bagus..
salam kenal dan mampir balik ya..
Sukses selalu

owner
Selasa, 17 November, 2009

@IHSAN : semoga kita salah satunya :T:
@Fata Hanifa : ganti lagi nih bos.. :NS:
@Yari NK : :deal:
@lulus Sutopo : thanks sob..

suwung
Selasa, 17 November, 2009

subhanallah

Posting Komentar

terima kasih udah mau meluangkan waktunya untuk memberikan sedikit komentar disini.